RedR Indonesia Tergabung dalam FPRB DIY

Berita & Publikasion Juli 2, 2021

Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta (FPRB DIY) merupakan wadah yang menyatukan berbagai organisasi pemangku kepentingan (multi stakeholders) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam mendukung upaya-upaya pengurangan risiko bencana (PRB) di wilayah DIY. Secara formal FPRB didirikan untuk menjadi platform PRB Provinsi pada 24 Oktober 2009. Pendirian dilakukan atas prakarsa dari pegiat dan mitra FPRB yang terdiri dari organisasi masyarakat, pemerintah, bisnis, media, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga internasional yang bekerja di DIY. Pada waktu didirikan FPRB DIY menjadi bagian dari Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB).

Latar belakang Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta

DIY sendiri merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang secara geografis provinsi terdiri dari pegunungan, perbukitan, dan pantai yang memiliki potensi ancaman bencana yang tinggi. Sejarah kejadian bencana yang besar pada gempa bumi tektonik pada tanggal 27 Mei 2006 dengan guncangan 5,9 Skala Richter menunjukan pentingnya melakukan langkah-langkah pengurangan risiko bencana. Selain mengakibatkan kerusakan hebat di wilayah DIY dan Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data dari Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) kejadian gempa bumi tersebut mengakibatkan korban sebanyak 4.626 jiwa, terluka sebanyak 19.202 jiwa, kerusakan bangunan permukiman sebanyak 92.946, dan berdampak langsung terhadap penurunan kualitas hidup dari 1.2 juta jiwa penduduk.

Aktivitas seismik yang menyebabkan meletusnya Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 juga menimbulkan dampak yang besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan dan kerugian akibat erupsi Gunung Merapi saat itu mencapai Rp. 3,86 triliun. Sebaran wilayah terdampak meliputi tiga kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Magelang dan Klaten, di Provinsi Jawa Tengah.

Selain gempa bumi dan letusan gunung api, DIY masih memiliki potensi kejadian bencana lainnya. Seperti bencana tsunami, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim, epidemi dan wabah penyakit, kebakaran hutan dan lahan, gelombang ekstrim dan abrasi, kekeringan, kegagalan teknologi dan banjir bandang. Bahkan dari semua jenis bencana tersebut sudah pernah terjadi. Tingginya tingkat kerentanan dan potensi bahaya di DIY, mempengaruhi tingkat risiko yang juga akan meningkat.

FPRB DIY menjadikan sejarah dan potensi bencana di DIY sebagai dasar dalam pengembangan rencana strategis serta program-programnya dalam upaya pengurangan risiko bencana.  Sejalan dengan visi misi dalam merespon kebutuhan bencana kemanusiaan, RedR Indonesia pada bulan Mei lalu resmi menjadi anggota dalam FPRB. Namun, dukungan terhadap FPRB telah dilakukan RedR Indonesia sejak situasi Gunung Merapi dinyatakan dalam status Awas. FPRB DIY bersama BPBD Sleman – PSMB UPN didukung oleh RedR Indonesia telah melakukan pemutakhiran dokumen rencana kontinjensi Gunung Merapi menjadi rencana kontinjensi yang adaptif terhadap protokol kesehatan COVID-19 bagi 7 kelurahan di Kabupaten Sleman yang masuk dalam wilayah kawasan rawan bencana erupsi Gunung Merapi. 

Kongres IV Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2021

Bergabungnya RedR Indonesia dan beberapa organisasi lainnya dalam keanggotaan FPRB disahkan secara resmi dalam acara Kongres IV Forum PRB Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2021. Kongres tersebut mengusung tema Kedudukan Relawan dalam Kerja Pentahelix untuk Ketangguhan Bencana dalam Situasi Pandemic Covid-19 di DIY. Dimana setiap stakeholders perlu bersama-sama menajamkan perannya dengan pentahelix agar Indonesia dan masyarakatnya tangguh dalam penanggulangan bencana. Serta menajamkan peran-peran FPRB yang ikut berkontribusi dalam tata kelola penanggulangan bencana di Indonesia.

Kongres dilaksanakan secara daring dan luring dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19. Seluruh perwakilan lembaga anggota FPRB DIY, FPRB dari Kabupaten Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Kota Yogyakarta, serta FPRB dari berbagai Provinsi mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti rangkaian kegiatan kongres. Selain itu, kongres juga dihadiri oleh Gubernur DIY yang diwakili oleh Kepala Pelaksana BPBD DIY; Bapak Drs. Biwara Yuswantana, M.Si., Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana; Bapak Lilik Kurniawan, S.T., M. Si., Perencana Ahli Madya BNPB; Bapak Drs. Pangarso Suryo Utomo., Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta; Bapak Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., perwakilan dari jaringan relawan satgas Covid-19 tingkat Desa; Ibu Ir. Andi Rhully Ekayani, dan Sekretaris Jenderal Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana; Ibu Ninil Miftahul.

Rangkaian kongres berisi beberapa paparan terkait kesiapsiagaan, arahan dari BNPB, diskusi kelompok terkait beberapa bidang, laporan pertanggungjawaban kepengurusan FPRB, serta sidang pemilihan koordinator dan pengurus FPRB DIY periode 2021-2024. RedR Indonesia mengucapkan selamat kepada Bapak M. Taufiq yang terpilih menjadi Koordinator Umum FPRB periode 2021-2024, serta Bapak Bambang Sasongko, Mas Indra Baskoro, Bapak Mahujud, dan Mbak Wahyu Heni yang terpilih menjadi Koordinator Bidang. Semoga kedepannya kolaborasi ini menjadi lebih besar dan berdampak dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Simak video dokumenter FPRB DIY