Pelatihan Pendidikan pada Situasi Darurat Bagi Kaum Muda

Artikelon Januari 11, 2023

Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi karena secara geologis berada di wilayah tempat bertemunya lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, dan lempeng Indo-Australia yang terus bergerak sehingga rawan terjadi gempa bumi. Selain itu, Indonesia juga terletak di garis khatulistiwa yang membuat beriklim tropis dengan curah hujan tinggi sehingga berpotensi menimbulkan bencana hydrometeorologis. Bencana sendiri dapat menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda serta dampak psikologis yang dialami tidak hanya oleh orang dewasa tetapi juga pada anak-anak.

Dalam situasi bencana anak-anak sering kehilangan akses Pendidikan karena fasilitas sekolah yang rusak dan tidak tersedianya kegiatan yang memadai. Perhatian terhadap anak juga menurun karena orang dewasa seringnya lebih fokus pada bagaimana bertahan hidup seperti mencari kecukupan sandang, pangan, dan papan. Padahal, Pendidikan juga merupakan salah satu faktor penting yang dapat menyelamatkan anak-anak melalui kegiatan pembelajaran yang memberikan pengetahuan sekaligus menciptakan kondisi keteraturan yang mendukung pemulihan. Oleh karena itu, kegiatan/aksi-aksi kemanusiaan perlu dilaksanakan pada sektor Pendidikan untuk memastikan bahwa dalam situasi darurat tetap tersedia layanan pendidikan, khususnya bagi anak-anak.

RedR Indonesia bekerja sama dengan UNICEF dan Plan Indonesia mengadakan Pelatihan Pendidikan pada Situasi Darurat yang diselenggarakan untuk peserta kaum muda. Kaum muda yang saat ini jumlahnya lebih dari 75 juta adalah aktor potensial untuk mendorong pendidikan berkualitas pada situasi darurat. Kemampuan teknologi dan energi yang dimiliki oleh kaum muda sangat berpotensi untuk menjangkau banyak pihak. Oleh karena itu, kaum muda membutuhkan kesempatan untuk terlibat dan mengambil alih kepemimpinan atas isu-isu kritis yang mempengaruhi mereka atau lingkungan di sekitar mereka termasuk tersedianya layanan pendidikan bagi anak-anak pada situasi darurat.

Kaum muda diharapkan dapat mengadvokasi pendidikan dalam keadaan darurat, kesetaraan gender, pencegahan kekerasan terhadap anak, pengajaran, dan pembelajaran yang sesuai dengan usia proses. Selain itu, pemuda juga bisa menjadi mitra belajar sebaya bagi pemuda lainnya. Oleh karena itu, kaum muda perlu mendapatkan peningkatan kapasitas dalam pendidikan pada situasi darurat.

Harapannya semakin banyak provinsi di Indonesia yang memiliki pemuda penggiat pendidikan pada situasi darurat. Melalui pelatihan tersebut, peserta akan dikenalkan dengan koordinasi mekanisme, isu lintas sektoral, dan prinsip-prinsip kemanusiaan, termasuk komitmen untuk mendukung rencana kontinjensi yang ramah anak.

Kegiatan diselenggarakan pada tanggal 12-14 Desember 2022 di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diikuti oleh 25 anak muda dari berbagai organisasi seperti Youth Advisory Panel, Global Youth Panel Education in Emergency (EiE) Indonesia, Mitra Muda UNICEF, forum anak, serta relawan LSM lokal.

“Kami mendapatkan banyak sekali informasi termasuk teknik advokasi yang dilakukan anak muda kepada pemangku keputusan dan pengambil kebijakan”

Testimoni Iriana Gloria, Mitra UNICEF

Materi pelatihan disusun secara interaktif sehingga para peserta terlibat aktif dalam setiap prosesnya. Situasi pelatihan juga disimulasikan sejak awal seperti sedang dalam situasi darurat yaitu bencana gempa dengan pelibatan fasilitator sebagai aktor polisi dan linmas yang mengatur lokasi, BNPB sebagai desk relawan, PMI yang membantu pendataan, serta pelibatan Tagana Sleman yang mengelola tenda logistik dan dapur umum. Simulasi tersebut membantu para peserta memahami peran dan koordinasi yang harus dilakukan pada situasi darurat. Di akhir kegiatan, para peserta yang berasal dari 10 provinsi ini mendeklarasikan komitmen bersama untuk menjadi komunitas Indonesia Education in Emergency Youth Ambassador.

Situasi pelatihan disimulasikan seperti dalam situasi darurat

Kaum muda perlu mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dan bermakna pada situasi darurat. Kehadiran mereka penting dalam membantu aktor kemanusiaan memastikan semua terdampak mendapatkan kebutuhannya dan tidak ada yang tertinggal (no one left behind). Peningkatan kapasitas akan membantu kaum muda untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketangguhan.