Story from the field: Bring Their Smile Back

Berita & Publikasion Agustus 29, 2021

Berbagai bencana yang beberapa tahun terakhir ini sering terjadi di Indonesia membuat istilah pekerja kemanusiaan (humanitarian worker) semakin akrab kita dengar. Bila sebelumnya kita sering mendengar istilah relawan, aktivis, atau staf lembaga kemanusiaan bagi mereka yang bekerja dalam penanganan bencana, saat ini kita terbiasa untuk menyebutnya pekerja kemanusiaan. Meskipun pekerja kemanusiaan dapat dipandang sebagai suatu profesi belaka, namun sebenarnya pekerja kemanusiaan adalah bagian dari bantuan kemanusiaan itu sendiri. 

Bernandus Thusi Bonandito atau yang biasa dipanggil Pak Thusi telah terjun sebagai pekerja kemanusiaan sejak 20 tahun yang lalu. Sebagai pekerja kemanusiaan, Pak Thusi telah berkontribusi hingga ke berbagai daerah di Indonesia. “Bring their smile back” menjadi salah satu motivasinya untuk terus menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Saat ini beliau menjadi salah satu deployment roster RedR Indonesia untuk program RESTORE UNDP (Response Toward Resilience) di Gorontalo, Sulawesi. Program RESTORE merupakan program yang membantu pemerintah dalam pencegahan dan pemulihan khususnya koordinasi multi-sektor untuk manajemen krisis pandemi COVID-19.  Seperti yang kita tahu pandemi COVID-19 sangat berdampak pada berbagai sektor, salah satunya perekonomian. Cakupan kerusakannya pun saat ini masih sulit diantisipasi sepenuhnya dan pemerintah masih terus melakukan upaya untuk meredam dampaknya bagi stabilitas makro ekonomi Indonesia. 

Dalam kasus Indonesia, pandemi menyebabkan kerusakan berat pada sektor-sektor seperti pariwisata dan jasa lainnya yang sangat rentan terhadap krisis dan pada saat yang sama memberikan bagian yang signifikan dari pendapatan nasional dan lapangan kerja. Oleh karena itu, dampak ekonomi dan sosial dari pandemi COVID 19 akan sangat berat, multi-sektoral, dan meskipun memiliki efek langsung, juga akan mempengaruhi jangka waktu menengah hingga panjang. Program RESTORE membantu pencegahan dan pemulihan pandemi COVID-19 dalam cakupan berikut:

  1. Penguatan segera sistem kesehatan dan tata kelola kesehatan serta pembangunan ketahanan jangka panjang.
  2. Dukungan langsung terhadap tanggapan yang inklusif bagi “seluruh masyarakat” untuk pencegahan dan mitigasi di tingkat pusat dan daerah.
  3. Mengatasi dampak sosial ekonomi dari pandemi COVID-19 untuk melindungi masyarakat Indonesia dan menjaga kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
  4. Memanfaatkan solusi digital dan analisis data besar untuk meningkatkan respons nasional.

Pemerintah provinsi juga turut serta memberikan dukungan keseluruhan untuk pelaksanaan dan pemantauan program RESTORE, serta bantuan teknis, termasuk dukungan kepada otoritas provinsi dalam melaksanakan JituPasna (Penilaian Kebutuhan Pasca Bencana – PDNA) dan merumuskan rencana pemulihan di provinsi.

Contoh beberapa praktik kegiatan yang Pak Thusi koordinasikan dalam program RESTORE adalah GUYUB; sosialisasi dan edukasi pencegahan COVID-19 melalui sarana keagamaan, SIP (sustainable infrastructure partnership) sebagai pendekatan terpadu untuk perencanaan dan pengembangan infrastruktur berkelanjutan khususnya bagi umkm daerah, PDNA (post disaster needs assessment)/jitupasna dalam situasi COVID-19. Meskipun jitupasna biasanya dilakukan pada pasca bencana namun Pak Thusi menyampaikan urgensi perhitungan kerugian bencana dan rencana pemulihannya perlu segera dilakukan. Hasil tersebut juga perlu terus dievaluasi apakah relevant dengan adanya varian baru yang berkembang.

Pak Thusi saat menjadi fasilitator pelaksanaan workshop jitupasna Covid-19 di provinsi Gorontalo

“Koordinasi dan kerjasama adalah hal penting dalam pengelolaan penanggulangan bencana,” tutur Pak Thusi. Baik antar instansi pemerintahan, lembaga, maupun masyarakat itu sendiri. Setiap dinas punya program pemulihan sehingga perlu disatukan agar berjalan selaras dan seiringan dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R3P) pasca bencana. Setiap lembaga atau instansi yang tidak terkoordinasi dengan baik dalam penanganan bencana bisa jadi memunculkan tumpang tindih antar lembaga yang membuat ego sektoral menjadi muncul. 

Pekerja kemanusiaan sering kali juga memiliki peran penting dalam pelaksanaan koordinasi dan kerjasama antar sektor. Kembali lagi, pekerja kemanusiaan bukan hanya sekedar profesi namun bagaimana bisa menjangkau dan melibatkan berbagai pihak untuk bersama-sama bergerak dalam penanggulangan bencana. Pesan Pak Thusi bagi mereka yang tergerak untuk terjun dalam dunia kemanusiaan, semua bisa memiliki perannya masing-masing. Mulailah dari apa yang bisa kita lakukan.

RedR Indonesia juga berkomitmen untuk selalu mendukung koordinasi dan kerjasama antar sektor penanggulangan bencana, salah satunya dengan tergabung sebagai anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta (FPRB DIY).

Baca artikel selengkapnya melalui https://redr.or.id/redr-indonesia-tergabung-fprb-diy/