Sharing Session: Optimalisasi Peringatan Dini dari Lembaga terkait Bencana

Berita & Publikasion Maret 16, 2021

Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk memiliki potensi bencana yang tinggi di Indonesia. Bagian selatan Yogyakarta berhadapan dengan Samudra Hindia merupakan wilayah pertemuan lempeng tektonik Eurasia-Indo Australia yang dapat menjadi sumber gempa sekaligus berpotensi terjadinya tsunami. Bagian utara terdapat Gunung Merapi yang aktivitasnya dapat mengakibatkan erupsi gunungapi, dan banjir lahar. Bagian barat merupakan daerah perbukitan yang rawan terjadinya longsor. Sementara, bagian tenggara Yogyakarta yang merupakan daerah karst dengan sungai multibasinal rawan terjadi kekeringan, banjir, dan tanah longsor. Situasi ini membutuhkan penanganan bencana yang terintegrasi, termasuk melibatkan lembaga negara terkait kajian bencana.

Lembaga negara terkait kajian bencana yang terdapat di Yogyakarta diantaranya adalah Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam BMKG sendiri terdapat Stasiun Klimatologi yang mengeluarkan informasi peringatan dini tentang hujan intensitas sedang-lebat, dan angin kencang. Selain itu juga terdapat Stasiun Geofisika yang mengeluarkan informasi yang berhubungan dengan gempabumi dan tsunami. Di Yogyakarta, BPPTKG melakukan pemantauan terkait aktivitas Gunung Merapi. Lembaga-lembaga tersebut secara umum memiliki tugas dan fungsi memberikan informasi terkait peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hasil kajiannya diharapkan dapat dipahami oleh masyarakat dan dijadikan pertimbangan tentang lembaga-lembaga lain terkait penanggulangan bencana.

Berdasarkan hal tersebut pada tanggal 3 Maret lalu, RedR Indonesia menyelenggarakan sesi virtual untuk berbagi informasi “Optimalisasi Peringatan Dini dari Lembaga Negara terkait Bencana.” Kegiatan ini diselenggarakan sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-5 RedR Indonesia. Sesi berbagi informasi ini ditujukan kepada jejaring perespon kemanusiaan yang tergabung dalam Roster Kemanusiaan RedR Indonesia, beserta pegiat respon bencana di Indonesia pada umumnya.

Pembicara yang diundang antara lain adalah Dr. Hanik Humaida selaku kepala BPPTKG DIY, Ikhsan, S.T., M.Si., selaku kepala stasiun Geofisika BMKG DIY, dan Reni Kraningtyas, M. Si. selaku kepala stasiun Klimatologi BMKG DIY. Masing-masing pembicara menyampaikan peran dan praktik baik dari masing-masing lembaga terkait kebencanaan sehingga kedepannya bisa menjadi sarana untuk optimalisasi pelayanan kepada publik. 

“Kegiatan ini diinisiasi oleh RedR Indonesia yang dirancang untuk mengingatkan kembali tentang dua hal. Pertama adalah kita yang hidup di antara berbagai ancaman bencana dari fenomena geologi dan hidrometeorologi dituntut untuk selalu mampu memahami gejala alam dan peringatan dini resmi sebagai dasar tindakan keselamatan. Kedua acara ini adalah penanda peringatan ulang tahun ke-5 RedR Indonesia” sebut Benny Usdianto selaku Direktur Redr Indonesia pada sambutannya

Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG melakukan pemantauan terhadap cuaca dan iklim. Staklim mengeluarkan informasinya melalui infografis dan narasi. Informasi tersebut disampaikan melalui sosial media BMKG, grup whatsapp masyarakat yang berada di daerah berpotensi atau rawan terkena bencana, termasuk tingkat kecamatan, perangkat desa, RT/RW, BPBD, instansi pemerintah, TNI, dan Bintara Pembina Desa (babinsa).

Stasiun Geofisika DIY merupakan salah satu dari sepuluh pusat gempa regional yang dimiliki oleh BMKG yang terbentang dari regional satu di Medan hingga regional sepuluh di Jayapura. Stasiun Geofisika DIY berada di regional tujuh yang memiliki tugas untuk melakukan monitoring dan analisa untuk gempa tsunami DIY, Jateng, Jatim, serta Kalimantan. Saluran informasi disampaikan kepada pemangku kepentingan (BPBD dan lembaga lainnya) agar disampaikan lagi kepada masyarakat. BMKG tidak pernah mencabut peringatan dini, tetapi mengakhiri. Dalam arti memberikan informasi kapan bahaya berkurang.

Sumber: presentasi Ikhsan, S.T., M.Si., selaku kepala stasiun Geofisika BMKG DIY

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY mempunyai tugas melaksanakan mitigasi bencana Gunung Merapi, pengembangan metode, teknologi dan instrumentasi, dan pengelolaan laboratorium kebencanaan geologi. Tugasnya mencakup pada pra, menjelang, dan saat bahaya. 

Sumber: presentasi Dr. Hanik Humaida selaku kepala BPPTKG DIY

Pak Taufik, salah satu peserta sharing session menyampaikan apresiasi kepada ke-3 lembaga yang telah menggunakan berbagai kanal penyebaran informasi hasil kajian. Saat ini setiap OPD mempunyai media-media yang berjejaring untuk menjangkau masyarakat. Tantangannya, masyarakat belum sepenuhnya menerima informasi dengan bijak. Maka masih diperlukan edukasi terkait kebencanaan di masyarakat.

Terakhir mas Didik selaku moderator menyampaikan bahwa menarik apabila kedepannya menguatkan optimalisasi jejaring serta kolaborasi dengan kelompok-kelompok masyarakat seperti NU, PGI, Muhammadiyah, dll yang dapat menjangkau masyarakat secara langsung. Kita harapkan agar sinergi antar lembaga pemerintah dan masyarakat dapat berjalan baik karena peringatan dini adalah tugas kita bersama.

Video: https://youtu.be/c6ZwhCmTFI0