Mental Health in Emergencies

Berita & Publikasion Oktober 8, 2021

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam cukup tinggi. Terhitung hingga 6 Oktober 2021; total bencana alam yang telah terjadi pada tahun 2021 adalah 1997.  Bencana tersebut telah mengakibatkan 6.282.953 orang menderita dan mengungsi, 527 orang meninggal dunia, 74 orang menghilang, dan 12.921 orang luka-luka.

Berdasarkan data world risk report 2018, Indonesia menduduki urutan ke-36 dengan indeks risiko 10,36 dari 172 negara paling rawan bencana alam di dunia. Kondisi tersebut disebabkan oleh keberadaan Indonesia secara tektonis menjadi tempat bertemunya empat lempeng yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, secara vulkanis merupakan jalur gunung api aktif yang dikenal dengan cincin api pasifik atau Pacific ring of fire (Hermon, 2014). Kondisi tersebut menjadi penyebab terjadinya bencana gempabumi, tsunami, dan gunung meletus. Selain itu, secara hidroklimatologis juga terdampak dengan adanya fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscillation) dan La Nina sehingga berimbas pada terjadinya bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, dan angin puting beliung (Sudibyakto, 2011, Hadi & Subhani, 2017).

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerugian material, namun dapat berpengaruh juga terhadap kesehatan mental terdampak.

Prevalensi gangguan mental umum seperti depresi dan kecemasan bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam kejadian krisis kemanusiaan. Pasca terjadinya sebuah bencana kondisi para pengungsi sangat dan paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena tekanan yang besar akibat kehilangan harta dan keluarga serta keputusasaan karena tidak tahu bagaimana cara melanjutkan kehidupannya. Kesehatan mental yang terganggu terus menerus akan mengakibatkan penyakit mental lainnya seperti anxiety, depresi hingga mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Menurut Mudjiran (2010), permasalahan kesehatan mental pasca kejadian bencana perlu diperhatikan secara menyeluruh dan dikendalikan. Jika tidak hal tersebut dapat meninggalkan dampak yang serius terhadap seluruh aspek kesejahteraan kehidupan masyarakat. Anggota masyarakat dapat kehilangan gairah hidup, kehilangan semangat kerja, putus asa, dan berdampak menjadi beban dalam masyarakat.

Depresi dan kecemasan dalam kejadian bencana meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Kelompok rentan ini perlu perhatian khusus dalam penanganan kesehatan mental saat dan pasca terjadinya kejadian bencana. Mereka membutuhkan akses ke perawatan kesehatan mental dan kebutuhan dasar lainnya.

Bagaimana merespon kesehatan mental saat dan pasca terjadinya bencana?

Berikut ini adalah beberapa contoh tanggap darurat efektif yang dapat dilakukan terhadap penanganan kesehatan mental saat dan pasca terjadinya bencana:

  1. Bantuan dan dukungan sosial masyarakat harus diperkuat, misalnya dengan membuat atau membentuk kembali kelompok masyarakat dimana anggotanya saling memecahkan masalah secara kolaboratif dan terlibat dalam kegiatan seperti bantuan darurat atau mempelajari keterampilan baru. Hal tersebut dilakukan sambil memastikan keterlibatan orang-orang yang rentan dan terpinggirkan, termasuk orang dengan gangguan jiwa.
  2. Pertolongan pertama ahli psikologis lewat dukungan emosional harus disediakan di lapangan, termasuk staf kesehatan, guru, atau sukarelawan terlatih.
  3. Intervensi psikologis (misalnya intervensi pemecahan masalah, terapi interpersonal kelompok, intervensi berdasarkan prinsip-prinsip terapi kognitif-perilaku) bagi orang-orang yang mengalami kesulitan berkepanjangan harus ditawarkan oleh spesialis atau oleh pekerja komunitas yang terlatih dan diawasi di sektor kesehatan dan sosial.
  4. Perawatan kesehatan mental klinis dasar yang mencakup kondisi prioritas (misalnya depresi, gangguan psikotik, epilepsi, penyalahgunaan alkohol dan zat) harus disediakan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan oleh staf kesehatan umum yang terlatih dan diawasi.
  5. Melindungi dan mempromosikan hak-hak orang dengan kondisi kesehatan mental yang parah dan disabilitas psikososial sangat penting dalam keadaan darurat kemanusiaan. Ini termasuk mengunjungi, memantau dan mendukung orang-orang di fasilitas psikiatri dan rumah tinggal.
  6. Hubungan dan mekanisme rujukan perlu dibangun antara spesialis kesehatan mental, penyedia layanan kesehatan umum, dukungan berbasis masyarakat dan layanan lainnya.

Kesehatan mental sangat penting bagi pemulihan sosial dan ekonomi secara keseluruhan dari individu, masyarakat, dan negara setelah keadaan darurat. Sehingga penting menjadi bagian dalam komponen rencana kesiapsiagaan bencana nasional. RedR Indonesia turut berkomitmen dalam mendukung hal tersebut, sesuai visi dan misinya kami mengadakan berbagai kegiatan, pelatihan kebencanaan, membangun jaringan pelaku tanggap bencana yang kompeten dan komit serta siap ditempatkan di mana saja dalam merespon bencana, konsultansi peningkatan kapasitas, kompetensi dan kecepat-tanggapan di bidang kebencanaan, serta memfasilitasi koordinasi tanggap bencana dari tingkat lapangan hingga tingkat yang lebih tinggi untuk menunjang respon kebutuhan bencana kemanusiaan.

Daftar Pustaka

Hadi, H., Subhani, A. (2017). Internalisasi Karakter Peduli Lingkungan dan Tanggap Bencana Pada Siswa Sekolah Melalui Program Geography Partner Schools (GPS)”, Prosiding Seminar Nasional APPPI NTB, Mataram, Indonesia, h.176-188, Oktober 2017.

Mudjiran, Daharnis, Taufik,e t al (2010). Pemulihan Dini Mental Masyarakat Pasca Gempa di Kota Padang. Padang: Pemko Padang, BNPB, UNP.

Sudibyakto, H. A. (2011). Manajemen bencana di Indonesia ke mana? Yogyakarta, UGM Press.