Manajemen Stress untuk Aktor Kemanusiaan dalam Respon Tanggap Bencana

Artikelon Desember 2, 2022

RedR Indonesia berkomitmen menyediakan personil yang kompeten dan berkomitmen untuk merespon kebutuhan kemanusiaan, salah satunya melalui program roster. Dukungan RedR Indonesia terhadap roster diwujudkan melalui pembekalan dan peningkatan kapasitas di kegiatan sharing session. Tahun ini RedR Indonesia bekerja sama dengan UNICEF Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan sharing session sebanyak tiga kali melalui daring.

Materi yang didiskusikan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas roster dalam mengenali peran aktor kemanusiaan dalam penganggulangan bencana, mengetahui sistem koordinasi dalam penanganan darurat bencana, memahami pentingnya persiapan terstruktur untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, dan memahami pengetahuan dalam manajemen stress dalam situasi bencana.

Aktor kemanusiaan berada di garda terdepan dalam situasi bencana untuk pelayanan di berbagai sektor. Kerja kemanusiaan yang dilakukan sangat bermakna dalam mengurangi penderitaan banyak orang. Namun sering kali para aktor kemanusiaan menghadapi situasi yang sangat menantang dan hal ini dapat mempengaruhi kondisi stress aktor kemanusiaan.

Manajemen stress dalam situasi bencana perlu dikelola sejak persiapan hingga akhir penugasan, sehingga aktor kemanusiaan, baik menyadari atau tidak, dapat terhindar dari dampak tekanan tersebut. Manajemen stress dalam situasi bencana merupakan salah satu bentuk perlindungan bagi aktor kemanusiaan.

Berikut ini adalah beberapa contoh tuntutan dan tantangan yang sering ditemui oleh aktor kemanusiaan di situasi bencana:

1. Tuntutan fisik yang berat.

2. Situasi yang penuh risiko, tidak biasa, darurat, sulit, dan menantang.

3. Terpapar dengan situasi kehancuran, kematian, kisah kehilangan dan duka

para penyintas.

4. Beban kerja yang berlebihan, jangka waktu panjang, kelelahan kronis, dan

terpapar pengalaman traumatis/mengancam jiwa.

5. Tuntutan untuk terus menerus peduli kepada keadaan para penyintas.

6. Berkurang/hilangnya privasi pada ruang pribadi.

7. Jauh dari keluarga.

Aktor kemanusiaan perlu memahami dan mengenali tanda-tanda stress, seperti:

1. Gejala Fisik

Denyut jantung bertambah cepat, banyak berkeringat, pernafasan terganggu, otak terasa tegang, sering buang air kecil, sulit tidur, gangguan lambung atau merasakan kelelahan yang berlebihan.

2. Gelaja Psikis

Resah, takut, kehilangan selera humor, kehilangan rasa percaya diri, sering merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, mudah lupa, perasaan tidak enak, atau perasaan kewalahan.

3. Gelaja Perilaku

Berbicara cepat, menggigit kuku, menggoyangkan kaki, perubahan nafsu makan, mengalami serangan panik atau paranoia.

Aktor kemanusiaan dapat mengalami trauma tanpa mengalami atau mendapatkan ancaman bahaya secara langsung. Hal ini bisa terjadi karena rasa peduli yang berlebihan atau merasa bertanggung jawab atas kerentanan orang lain. Perubahan yang dialami dapat mempengaruhi secara fisik, psikis, maupun spiritual. Layanan dukungan psikososial juga dibutuhkan oleh para aktor kemanusiaan. Hal itu akan membantu aktor kemanusiaan untuk memahami reaksi stress dan kebutuhan diri sendiri untuk mendapatkan bantuan, membantu memahami kebutuhan para penyintas yang berbeda, dan akses bantuannya.

“It is only when you have been in disaster that you will fully understand the need for psychosocial support, both for the affected and for those who helped the affected”

Frehiwot Worku, Secretary General of the Ethiopian Red Cross

Persiapan manajemen stress sebelum tanggap darurat dapat dilakukan dengan pemberitahuan yang baik tentang tugas-tugas yang akan dihadapi, tentang stress, dan bagaimana mengatasi reaksi emosional terhadap situasi sulit. Informasi tersebut dapat mempersiapkan aktor kemanusiaan untuk mendeteksi reaksi dan kebutuhan dukungan.

Dalam situasi tanggap darurat, penting untuk diingat bahwa kebutuhan para aktor kemanusiaan seringkali sama dengan kebutuhan penyintas yang mereka bantu. Dukungan adalah salah satu dari banyak faktor penting dalam meminimalkan stress. Setelah tanggap darurat selesai, aktor kemanusiaan membutuhkan refleksi untuk membantu dalam memproses dan menyesuaikan diri dengan pengalaman yang selama itu dihadapi. Refleksi tersebut membantu aktor kemanusiaan untuk menilai kebutuhan akan dukungan. Manajemen stress akan mempengaruhi respon aktor kemanusiaan terhadap masyarakat atau pata penyintas bencana, diri sendiri, organisasi/Lembaga maupun keluarga. Oleh karena itu, para aktor kemanusiaan perlu memahami bagaimana mengelola manajemen stress dalam respon kebencanaan.

Sumber gambar: materi sharing session dari narasumber Intan Dewi