Seri Pelatihan Inklusif: Inklusivitas dalam AMPL (WASH)

Berita & Publikasion Maret 30, 2021

Sejak kasus Covid-19 muncul pertama kali di Indonesia, aktor kemanusiaan (termasuk unit pemerintah lokal dan organisasi non-pemerintah) harus mengadaptasi pendekatan penanggulangan bencana (PB); dimana fase PB (kesiapsiagaan, respon darurat, pemulihan bencana) tidak selalu dilihat sebagai siklus yang terpisah, namun sebagai sebuah kesatuan proses yang bisa dilakukan secara bersamaan. Kurangnya rencana kesiapsiagaan dan respon darurat bencana dengan adaptasi risiko kesehatan, terutama pandemi Covid-19 menyebabkan pengembangan kegiatan pencegahan yang tidak memadai dan menyeluruh. Akibatnya, penyandang disabilitas, orang lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya yang mempunyai risiko tinggi dari kejadian bencana, kondisinya semakin terpuruk.

HI, RedR Indonesia, YEU dan Sub-Klaster Orang Lanjut Usia, Penyandang Disabilitas, dan Kelompok Rentan lainnya (Sub-Klaster LDR) sebagai mitra kunci Kementerian Sosial berkomitmen untuk terus mendukung aktor kemanusiaan dalam meningkatkan kesadaran, pemahaman dan kapasitas mengenai pentingnya pengarusutamaan inklusi disabilitas, gender, dan lanjut usia dalam respon kemanusiaan yang dilakukan lewat seri pelatihan inklusi.

Seri pelatihan inklusi disusun selama bulan Maret dengan tema berbeda dan pembicara yang berkompeten di bidangnya. Inklusivitas dalam AMPL/WASH adalah salah satu topiknya. Pada tema kali ini pembicara yang memaparkan materinya adalah Fauzan Adhitia (UNICEF), Nafis Saputra (ASB), Heri Yulianto (Tim WASH OPDis Pasigala), dan dimoderatori oleh Chandra A (Dinas Sosial Provinsi NTB).

Bencana dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur dan timbulnya pengungsian baik yang terpusat atau terpencar, termasuk tersebarnya berbagai kelompok rentan dalam pengungsian. Angka penderita sakit dan kematian yang semakin meningkat pada situasi bencana tidak hanya disebabkan oleh dampak langsung bencana tetapi juga penyertanya seperti menurunnya kualitas lingkungan, perubahan kesehatan lingkungan, dan keterbatasan akses air bersih.

Bencana membuat keterbatasan akses penyintas terhadap pelayanan dasar (air dan sanitasi). Hal tersebut tentunya akan semakin memicu meningkatnya penyebaran penyakit menular yang dapat berpotensi wabah setelah bencana; diantaranya peningkatan kasus diare, leptospirosis, DBD, dan penyakit kulit. Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) atau Water Sanitation and Hygiene (WASH) adalah salah satu bagian yang penting dalam pengendalian penyakit menular saat bencana.

Penjelasan tentang standar AMPL/WASH menurut Fauzan Adhitia
(UNICEF) yang diambil dari The Sphere Handbook 

Keterlibatan masyarakat sangatlah penting dalam kegiatan AMPL/WASH. Inklusi dapat terjadi apabila ada keterlibatan dan akses. Fauzan menyebutkan, “pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan data terpilah, bahwa di antara kita pasti ada LDR.”

Pembangunan sarana air minum dan sanitasi yang inklusif adalah kegiatan pembangunan yang melibatkan dan bermanfaat bagi semua anggota masyarakat. Pembangunan inklusif terjadi ketika seluruh lapisan masyarakat termasuk kelompok rentan menikmati proses-proses dan hasil pembangunan secara sama.

Nafis Saputra (ASB) menuturkan bahwa akses yang perlu diperhatikan agar inklusif mencakup akses fisik, informasi, pelayanan, dan juga infrastruktur yang mudah dijangkau, mudah dimasuki, mudah untuk berputar, dan mudah digunakan.

Sedangkan Heri Yulianto  selaku tim WASH OPDis Pasigala juga menyampaikan pengalamannya selama ini mengelola AMPL/WASH di lapangan. Beliau menuturkan proses penanganan bencana yang dilakukan antara lain:

  1. Melakukan assessment
  2. Melakukan verifikasi terhadap data assessment
  3. Melakukan peningkatan kapasitas Pokja OPDis
  4. Melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana
  5. Community meeting bersama penerima manfaat layanan WASH inklusif
  6. Meningkatan kapasitas gema difabel dalam respon darurat Sulbar
  7. Mendukung pelayanan air bersih respon darurat
  8. Melakukan peningkatan kapasitas masyarakat tentang layanan air bersih respon darurat
  9. Melakukan monitoring pembangunan jamban universal semi permanen respon darurat
  10. Mendampingi teknis pembangunan sarana air bersih di masa pemulihan pasca bencana
  11. Berkoordinasi dengan sub-klaster WASH

Terakhir Heri Yulianto  menuturkan bahwa kelompok rentan memiliki potensi yang sama dalam melakukan penanganan kedaruratan. Bukan hanya sebagai penerima manfaat namun menjadi pembelajar ke masyarakat, kontribusi dari perencanaan, mekanisme, monitoring, pelaksanaan, umpan balik, evaluasi, hingga sebagai pembelajaran. 

Video Seri Pelatihan Inklusif: Inklusivitas dalam AMPL (WASH) https://www.youtube.com/watch?v=USIUtWFVfR8&t=7168s