Hari Kesiapsiagaan Bencana

Artikelon April 28, 2022

Indonesia memiliki beragam bencana yang sering terjadi, baik bencana alam ataupun non alam. BNPB mencatat di awal tahun 2022 (1 Januari – 21 April 2022) terdapat 1.355 bencana yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi berupa banjir sebanyak 521 bencana. Semua bencana tersebut mengakibatkan lebih dari 1,7 juta orang mengungsi dan 22.217 rumah rusak, belum termasuk fasilitas umum yang rusak sejumlah 587 buah. Selain itu, Covid-19 menjadi bencana pendatang baru. Pandemi yang masuk kategori bencana non alam ini mengakibatkan banyak korban jiwa di Indonesia sejak kasus pertama kali diumumkan bulan maret 2020. Penularan Covid-19 ini “tak terbendung” dan berisiko tinggi seiring dengan mobilitas manusia yang tinggi. Di sisi lain, bencana lain tak mau kalah unjuk gigi bersamaan dengan penekanan risiko manusia terpapar virus ini. Bencana yang terjadi secara simultan ini memerlukan penanganan komprehensif agar segala penanganan darurat bencana berjalan dengan baik sekaligus menekan risiko penularan Covid-19.

Rangkaian kejadian bencana tersebut memberikan pembelajaran bagi kita agar kita lebih siap untuk mengurangi dampak buruk bencana. Pemerintah melalui BNPB mengeluarkan PP No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana yang bertujuan agar menjamin terselenggaranya pelaksanaan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat. Penyelenggaraan penanggulangan bencana ini meliputi tahapan pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana.

Penyelenggaraan PB membutuhkan kesadaran dari seluruh jajaran masyarakat: pemerintah, lembaga, masyarakat, media, universitas dan semua unsur negara agar tercipta penanganan bencana yang terintegrasi, terpadu, terkoordinasi dan berkesinambungan. Untuk mendorong hal tersebut sekaligus mendorong kesadaran persiapan penanggulangan bencana, salah satu kegiatan yang diselenggarakan secara berkala dan serentak setiap tanggal 26 April adalah Hari Kesiapsiagaan Bencana. Peringatan ini menurut BNPB, dicetuskan dengan tujuan mengajak semua pihak meluangkan waktu untuk melakukan kesiapsiagaan bencana secara serentak, selain itu tujuan besar dari Hari Kesiapsiagaan Bencana ini adalah untuk membudayakan latihan terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana.

Tanggal 26 April ini dipilih sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana karena berkaitan dengan 10 tahun ditetapkannya Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Hal ini dilakukan karena UU tersebut sangat penting dalam melahirkan berbagai produk hukum, kebijakan dan program pemeritah yang mendukung kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Hal ini menjadi awal perubahan paradigma sekaligus cara pandang menyikapi bencana dari respon menuju pengurangan risiko bencana. Kegiatan utama pada Hari Kesiapsiagaan Bencana adalah dilaksanakannya latihan atau simulasi serentak di seluruh wilayah Indonesia, seperti latihan evakuasi mandiri, simulasi kebencanaan, uji sirine peringatan dini, uji shelter dan lainnya. Tangguh bencana harus dimulai dari diri sendiri, masyarakat diharapkan mampu menyelamatkan dirinya sendiri ketika terjadi bencana, maka masyarakat harus memahami ancaman dan risiko yang mereka hadapi di lingkungan sekitar mereka. Hasil survei di Jepang, Great Hansin Earthquake 1995, korban yang dapat selamat dalam durasi “golden time” dikarenakan oleh : (1) kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35 %, (2) dukungan anggota keluarga sebesar 31,9 %, (3) dukungan teman/tetangga sebesar 28,1%, (4) dukungan orang di sekitarnya sebesar 2,60%, (5) dukungan Tim SAR sebesar 1,70 % dan (6) lain-lain sebesar 0,90% (Buku panduan HKBN 2017). Berdasarkan hasil kajian tersebut maka faktor yang paling menentukan selamat dari bencana adalah penguasaan pengetahuan diri sendiri, oleh sebab itu peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sangat didorong guna mengurangi risiko bencana.

Sejak ditetapkannya Hari Kesiapsiagaan Bencana sejak 2017 oleh BNPB, Indonesia telah menyelenggarakan perhelatan akbar kesiapsiagaan ini sebanyak 3 kali dengan tema yang berbeda-beda. Tahun 2017 awal dari penetapan Hari Kesiapsiagaan bencana ini BNPB mengusung tema  “Membangun Kesadaran, Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Bencana”  dengan kegiatan utama Uji sirine atau tanda peringantan bahaya lainnya; uji shelter, tempat evakuasi se-Indonesia; uji lapang evakuasi mandiri pada lingkungan sekolah, pengelola tempat layanan publik, pengelola gedung bertingkat, dan permukiman masyarakat. Tahun 2018 tema mengerucut pada lingkungan sosial terkecil yaitu keluarga dan komunitas. Hari kesiapsiagaan bencana 2018 ini mengusung tema “Siaga Bencana Dimulai Dari Diri Kita, Keluarga dan Komunitas”. Kegiatan dari hari kesipsiagaan bencana 2018 adalah simulasi evakuasi mandiri serentak; uji sirine peringatan dini; kesiapsiagaan kleluarga dalam menghadapi bencana. Pada Tahun 2019 HKBN mengusung tema “Perempuan sebagai Guru Siaga Bencana, Rumah Menjadi Sekolahnya”. Kesiapsiagaan 2022 ini memberikan tema “Keluarga Tangguh Bencana Pilar Bangsa Menghadapi Bencana”.

Kegiatan-kegiatan di hari kesiapsiagaan bencana ini dapat menjadikan refleksi bagi kita apakah keselamatan diri sudah menjadi bagian utama dari diri kita, dan merefleksikan sinergi masyarakat dari level keluarga hingga ke pemerintah dalam penanggulangan bencana. Akhirnya kita berharap kesiapsiagaan ini bukan hanya jargon yang digaungkan setiap tanggal 26 April namun menjadi aksi nyata dan menciptakan masyarakat yang Tangguh, Tanggap, Tangkas, dan Waspada terhadap bencana.

Tujuan Hari Kesiapsiagaan Bencana

 BNPB berkomitmen sejak awal inisiasi lahirnya Hari Kesiapsiagaan Bencana bahwa kegiatan ini harus berlangsung secara konsisten dan secara regular dilaksanakan setiap tahunnya. HKB tahun 2022 merupakan tahun ke 3 dilaksanakannya selama masa pandemic. Kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2022 yang mengusung sub tema “Keluarga Tangguh Bencana Pilar Bangsa Menghadapi Bencana”, dengan sasaran adalah seluruh orang yang tinggal di Indonesia selamat dari bencana. HKB ini memiiliki tujuan membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana dengan cara membangun partisipasi semua pihak. Dengan maksud tersebut tujuan dari HKB 2022  ini adalah “Meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan bencana seluruh lapisan masyarakat di masa pandemic Covid-19 menuju Keluarga Tangguh Bencana”. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut maka strategi yang diterapkan adalah sosialisasi dan kampanye, pendekatan melalui media cetak, elektronik, dan sosial. Pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, NGO, Lembaga usaha, akademisi, dan relawan.

Konsep kesiapsiagaan di masyarakat berkembang dan memliki beberapa pengertian, konsep dari Nick Carter dalam Deny Hidayati, dkk (2006) kesiapsiagaan dari suatu pemerintahan, suatu kelompok masyarakat atau individu, yaitu tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan, organisasi-organisasi, masyarakat, komunitas dan individu untuk mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan tepat guna. Termasuk kedalam tindakan kesiapsiagaan adalah penyusunan rencana penanggulangan bencana, pemeliharaan sumberdaya dan pelatihan personil. (Deny Hidayati, 2006:5)1. Pengertian kesiapsiagaan sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 24 Th 2007, Bab 1 Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 7 dan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008, Bab 1 Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 4, yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna2 .Hal ini digunakan untuk masyarakat menguragi dampak atau mengurangi risiko akibat bencana yang terjadi baik dari segi ekonoomi, infrastruktur dan terutama dari manusianya (meninggal, luuka-luka, dll). Mengurangi risiko dan dampak menjadi kunci dalam kesiapsiagaan bencana maka untuk mengurangi hal tersebut kita perlu mengenali acaman/bahayanya, pahami risikonya dan meningkatkan budaya sadar bencana. Mengenali ancaman di daerah masing-masing/ lingkungan sekitar menjadi sangat penting untuk menghadai bencana bai kalam dan non alam.

Proses mengenali ancaman adalah sadar bahwa lingkungan sekitar rawan akan ancaman bencana denan mengetahui karakter bahaya/acaman yang meliputi jenis ancaman, sumber, durasi, bahaya primer, faktor perusak, dan dampaknya. Sehingga setelah mengetahui ancaman maka kita bisa memetakan risiko bencana, hal ini menjadi bagian dari memahami risiko bencana baik dari segi manusia, ekonomi, infrastruktur, lingkungan dan sosialnya. Kedua komponen tersebut mengenai memahami ancaman, memahami risiko diharapkan maka dimulai dari diri sendiri bahwa kita sadar untuk menyelamatkan diri dari bencana tersebut, menularkan ke orrang lain dan membentuk budaya sadar bencana bagi lingkungan sekitar.

Kesiapsiagaan bencana tidak hanya dilakukan oleh Indonesia, melainkan dilakukan juga oleh beberapa negara sepeeti Jepang yaitu pada 1 September “Prevention Day”, di Korea Selatan di bulan Mei “Hari Kesiapsiagaan dan Kedaruratan Bencana”, dan di Amerika Serikat pada bulan September “Bulan Kesiapsiagaan”. Bagaimana Indonesia melakukan kesiapsiagaan bencana?

Indonesia memiliki beberapa program baik dari BNPB, dan dinas-dinas lainnya mulai dari pembentukan desa Tangguh Bencana (DESTANA), Taruna Siaga Bencana (TAGANA), dan terakhir hingga menyentuh komunitas terkecil dari negara yaitu keluarga dengan membentuh Keluarga Tangguh bencana (KATANA). Selain itu, negara melalui berbagai instansi dan peralatan banyak melakukan kajian, penguatan kapasitas/pengetahuan, serta pemasangan sistim peringatan dini di setiap wilayah yang rawan bencana (tsunami, erupsi gunungapi, longsor, cuaca ekstrem, dll). DESTANA sendiri diatur secara resmi dalam perka BNPB No 1 tahun 2012 tentang pedoman umum Desa Tangguh Bencana, sedangkan TAGANA diatur dalam Permensos 28 tahun 2012 tentang pedoman umum TAGANA. Semua hal tersebut adalah upaya negara untuk memberikan ketangguhan atau mengupayakan sadar bencana kepada masyarakat luas, komunitas, keluarga hingga individu.

Kesiapsiagaan Komunitas

Komunitas (community) adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa3. Dari pengertian tersebut maka komunitas memiliki juga risiko yang harus mereka hadapi baik risiko atas manusia, lingkungannya, ekonominya, infrastrukturnya dan sosialnya.  Masing-masing memiliki kerentanan dan karakteristik sendiri jika terjadi bencana.  Maka untuk mengatasinya diperlukan kesiapsiagaan untuk menekan dampak buruk yang terjadi akibat bencana. Bentuk kesiapsiagaan komunitas ini memiliki berbagai bentuk mulai dari sosialisasi tentang daerah rawan bencana di lingkungannya, pemetaan daerah rawan bencana, penyusunan rencana kontingensi sebagai benctuk kesiapsiagaan menghadapi bencana, pembuatan peta, rambu dan pembersihan jalur evakuasi, simulasi menghadapi bencana (pengecekan sirine /EWS, simulasi evakuasi, pengecekan alat darurat, dll).

Sosialisasi Bencana Erupsi Gunung Merapi
Pembentukan rencana kontingensi erupsi Gunung Merapi
Pengecekan sarana dan prasarana evakuasi
Simulasi pendirian tenda darurat
Apel Siaga Bencana menghadapi erupsi Gunung Merapi

Komunitas perlu bersiap menghadapi ancaman bencana di manapun, kapanpun dan merespon dengan efektif serta efisien demi menyelamatkan dan mengurangi risiko bencana terhadap aset penghidupan dan kehidupan.

Kesiapsiagaan Keluarga

Komunitas terkecil dari suatu masyarakat adalah keluarga, dimana di dalamnya memiliki visi, misi dan tujuan bersama yang berbeda bagi masing-masing keluarga. Namun tentunya dalan situasi bencana tidak ada yang menginginkan keluarganya menjadi korban, atau asetnya terkena dampak bencana. Keluarga menjadi pilar yang menyokong yang akhrinya dapat memberikan dampak kepada komunitas dan masyarakat jika keluarga sudah sadar dan siap menghadapi bencana.

Kekayaan Indonesia tak hanya pada sumberdaya alam namun juga pada risiko bencana, hampir seluruh keluarga di Indonesia rawan akan bencana terutama di masa pandemi covid 19 ini. Untuk itu kesiapsiagaan keluarga untuk menekan dampak buruk dari bencana perlu ditingkatkan. Komponen kesiapsiagaan di keluarga tidak akan jauh berbeda dengan komponen kesiapsiagaan di masyarakat, hanya dalam lingkup yang diperkecil. Komponen kesiapsiagaan tersebut adalah :

A. Sistem peringatan dini

Tanda peringatan dini dapat dikenali seluruh anggota keluarga termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas baik saat di dalam dan di luar rumah.

B. Rencana Kesiapsiagaan Keluarga

  • Rencana kesiapsiagaan telah disusun untuk seluruh anggota keluarga termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
  • Setiap anggota keluarga memiliki nomor-nomor kontak anggota keluarga yang lain dan dapat dihubungi saat keadaan darurat.

C. Jalur Evakuasi

  • Jalur evakuasi telah ditentukan untuk seluruh anggota keluarga termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
  • Jalur evakuasi terbebas dari segala sesuatu yang bisa menjadi penghalang saat digunakan.
  • Jalur evakuasi telah dilengkapi dengan rambu-rambu yang dapat diketahui oleh seluruh anggota keluarga termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.

D. Evakuasi Mandiri

Setiap anggota keluarga termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas telah memahami teknik perlindungan diri dan evakuasi.

E. Titik Kumpul

  • Titik kumpul telah ditentukan lokasinya.
  • Titik kumpul terbebas dari segala sesuatu yang bisa menjadi penghalang saat digunakan.
  • Titik kumpul telah dilengkapi dengan rambu-rambu
  • Anggota keluarga memahami perannya saat berada di titik kumpul.

Untuk memberikan seluruh pemahaman tersebut maka penting bagi keluarga untuk mengenali ancaman di sekitar lingkungan rumah/temoat tinggal, memahami risiko terhadap ancaman tersebut dan meningkatkan kesadaran di setiap anggota keluarga akan bencana, dan pentingnya mengurangi risiko bencana. Dalam keeluarga dapat melakukan beberapa hal seperti melakukan pemetaan dan analisis ancaman. Bagaimana mengetahuinya?

Mengetahui mengenai risiko dan ancaman ini dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan mengunduh aplikasi inarisk personal kemudian dapat melihat ancaman / risiko bencana di sekitar lingkungan keluarga, kemudian dapat membuat rencana kesiapsigaan kecil, mulai dari persiapan rencana jalur evakkuasi, pengecekan tempat aman, titik kumpul keluarga, dan melakukan simulasi.

Contoh peta/jalur evakuasi rumah/keluarga

Kesiapsiagaan Individu

Hasil survey dari gempa kobe Rajib Shaw, 2012, menyatakan bahwa menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Pemerintah Kobe City, 97% dari orang-orang yang diselamatkan dari gempabumi Hanshin-Awaji menjawab bahwa mereka diselamatkan oleh anggota keluarga mereka atau tetangga, atau menyelamatkan diri, sementara petugas penyelamat mengalami kesulitan untuk menjangkau mereka. Maka kesiapsiagaan dari individu ini perlu ditingkatkan untuk menyadarkan keselamatan bagi anggota keluarganya. Kegiatan dari individu ini bisa berupa penyiapan tas siaga bencana, sosialisasi kepada keluarga mengenai bencana, dan mendorong keluarga untuk bersiapsiaga.

Negara, komunitas, keluarga, dan individu perlu bersiap menghadapi ancaman bencana di manapun, kapanpun dan merespon dengan efektif serta efisien demi menyelamatkan dan mengurangi risiko bencana terhadap aset penghidupan dan kehidupan. Hari Kesiapsiagaan Bencana adalah upaya pemerintah untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat dan menyadarkan individu akan pentingnya pengetahuan bencana untuk selamat, sehingga kita mampu mengaplikasikan jargon Hari Kesiapsiagaan Nasional yaitu “Siap Untuk Selamat”.

#HariKesiapsiagaanBencana2022 #HKB2022 #SiapUntukSelamat


Daftar Pustaka
Pedoman dan Sosialisasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2022, BNPB
1 Deny Hidayati, dkk,(2006). Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana Gempa dan Tsunami di Indonesia. LIPI/UNESCO/ISDR. Jakarta.
2 Undang – Undang no 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
3 Ambar Kusumastuti, “Peran Komunitas dalam Interaksi Sosial Remaja di Komunitas Angklung Yogyakarta”, Skrpsi (Yogyakarta: UNY, 2014) diakses tanggal 14 April 2022 jam 19.30 pada https://eprints.uny.ac.id/12758/1/Skripsi_PDF.pdf h. 9.
Buku pedoman panduan kesiapsiagaan bencana untuk keluarga. https://siaga.bnpb.go.id/